Tim Propinsi Bali Nilai Spmn 2 Tembuku

  • 27 Oktober 2015
Tim Propinsi Bali Nilai SPMN 2 Tembuku

Bangli-

Tim Penilai Lomba Kelompok Siswa Peduli Aids dan Narkoba ( KSPAN) Propinsi Bali, Selasa ( 27/10) kemarin menilai SMPN 2 Tembuku yang tahun ini menjadi duta Bangli dalam lomba tersebut. Kedatangan tim disambut keluarga besar SMPN 2 Tembuku, sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Bangli serta undangan lainnya. Kedatangan tim disambut langsung Asisten III Setda Bangli Bagus Rai Dharmayuda.

 

Ketua tim penilai Drs. I Wayan Nurjaya, M.Si dalam kesempatan itu mengemukakan, data di Dinas Kesehatan Provinsi Bali menyebutkan kasus HIV dan Aids sejak ditemukan pertama kali di thun 1987 sampai dengan bulan September 2015 telah mencapai jumlah 12.516 kasus, dimana rata-rata temuan kasus mencapai 120 kasus per bulan. Yang lebih memprihatinkan lagi menurut Nurjaya, penularannya tidak hanya terjadi pada kelompok berisiko tinggi seperti PSK, penasun, homoseks tetapi sudah menginfeksi ibu rumah tangga, remaja dan anak-anak serta balita. “ Yang sangat memprihatinkan, ternyata 80 % lebih kasus HIV/Aids terdapat pada kelompok usia produktif dan seksual aktif yaitu 14-29 tahun, sedangkan pada balita sekita 3 %. ,” ungkapnya.

 

Menyikapi kasus HIV/Aids tersebut, lanjutntya, KPA Bali telah mengambil langkah strategis diantarannya dengan menggalakan kegiatan KSPAN di sekolah dan Kader Desa Peduli Aids di seluruh desa serta meningkatkan keterlibatan semua komponen. Karena permasalahan HIV/Aids tidak bisa dipecahkan oleh pemerintah saja tetapi diperlukan dukungan dan keterlibatan banyak pihak untuk memeranginya

 

 

Bupati Bangli dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Asisten III Bagus Rai Dharmayuda mengemukakan, Program Kelompok Siswa Peduli Aids dan Narkoba (KSPAN) merupakan program yang sangat strategis dalam membentengi generasi muda dari “tsunami” Aids dan penyalahgunaan Narkoba. Dengan memberi pemahaman sejak dini dan berkelanjutan kepada anak didik. Berdasarkan data epidemiologi di Kabupaten Bangli tahun 2015 hingga bulan September, tercatat 272 kasus HIV/Aids dimana 7 orang telah meninggal. “ Oleh karenanya sebagai komunitas yang relatif mudah dijangkau, sekolah merupakan media yang tepat sebagai ajang sosialisasi  pencegahan HIV/Aids,” tegasnya *jelantik

  • 27 Oktober 2015

Berita Terkait Lainnya

Cari Berita