Sehari Belajar Di Luar Kelas

  • 07 November 2019
SEHARI BELAJAR DI LUAR KELAS
SEHARI BELAJAR DI LUAR KELAS = BELAJAR LESEHAN? Terusik juga tangan saya untuk mengungkapkan pelaksanaan program “ Sehari Belajar di Luar Kelas” yang digagas Dinas Pendidikan Propinsi Bali. Sesungguhnya kegiatan tersebut ditujukan bagi sekolah jenjang SMA/SMK/ SLB sebagaimana kewenangan yang dimiliki Dinas Pendidikan Propinsi. Namun sekolah jenjang SD dan SMP tampaknya juga latah dan mengikuti kegiatan ini. Responsif memang para kepala sekolah kita. Dan itu sangat bagus. Tampaknya, pelaksanaan “ Program Sehari Belajar di Luar Kelas “ cenderung diartikan secara gramatikal dengan pemaknaan sempit. Pantauan di sekolah dan “postingan” photo di sejumlah Medsos mengindikasikan jika “Program Sehari Belajar di Luar Kelas” disamakan dengan “memindahkan” aktivitas belajar mengajar ke ruang terbuka lingkungan sekolah. Seperti halaman sekolah, beranda sekolah atau bahkan di sudut-sudut sempit atau lorong-lorong sekolah. Pokoknya yang penting PBM berlangsung di luar kelas. Pemaknaan sempit dan cenderung pragmatis tersebut bukan saja akan memperkuat stigma bahwa kita kurang literat, namun juga membenarkan tesis kita suka latah, ikut-ikutan tanpa berupaya untuk memahami esensi. Program “Sehari Belajar di Luar Kelas” jika dikaitkan dengan pelaksanaan Kurikulum 2013 hendaknya diartikan sebagai sebuah upaya untuk membiasakan anak-anak untuk menjadikan SEMUA ORANG ADALAH GURU, ALAM RAYA ADALAH SEKOLAH . Program Sehari Belajar di Luar Kelas. Jika dimaknai sebagai upaya untuk menjadikan SEMUA ORANG ADALAH GURU, ALAM RAYA ADALAH SEKOLAH, maka kita harus sepakat untuk memaknainya dalam perspektif yang lebih luas. Bukan hanya sebatas memindahkan tempat PBM, namun sebagai upaya untuk melibatkan seluruh indera yang dimiliki siswa dalam mencari konstruk baru keilmuan. Jika Program Sehari Belajar di Luar Ruangan dimaknai sebagai pembiasaan “ SEMUA ORANG ADALAH GURU, ALAM RAYA ADALAH SEKOLAH”, maka aktivitas yang dilakukan siswa adalah belajar dengan menggunakan semua inderanya. Siswa diajarkan untuk melihat lingkungan sekitar, mencari hal-hal baru, melakukan identifikasi, mencoba menemukan hipotesa dan selanjutnya mendiskusikan dengan teman-teman untuk menyimpulkan permasalahan yang dihadapi. Dengan demikian, sesungguhnya Program Sehari Belajar di Luar Sekolah merupakan salah satu upaya untuk membimbing siswa untuk menguasai keterampilan abad 21 yang lebih kita akrabi dengan istilah 4 C ( Critical Thingking, Creativity, Collaboration, Communication ) Bukan hanya sebatas menggiring siswa untuk Belajar Lesehan di alam terbuka. Semoga Bermanfaat dan bisa membuka perspektif yang lebih luas ( jelantik)
  • 07 November 2019

Berita Terkait Lainnya

Cari Berita